
Sejumlah enam nasabah fintech Akseleran gagal bayar dengan total kredit mencapai Rp178,27 miliar
Akseleran tengah menempuh dua strategi utama guna menyelesaikan persoalan kredit macet senilai Rp178,27 miliar yang membelit beberapa nasabahnya.
Fokus Penagihan dan Pelaporan Kasus Fraud
Jakarta – Fintech peer to peer lending Akseleran menghadapi tantangan serius dengan adanya enam nasabah yang gagal bayar dengan total kewajiban mencapai Rp178,27 miliar. Ivan Nikolas Tambunan, Komisaris Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia, mengungkapkan bahwa perusahaan saat ini memusatkan perhatian pada dua langkah strategis untuk menangani kredit bermasalah tersebut.
“Kami sedang melakukan penagihan secara intensif pada debitur yang menunggak, serta berupaya mencari investor baru agar bisa melakukan recovery bagi para lenders,” jelas Ivan saat dihubungi, Senin (23/6/2025).
Beberapa nasabah yang bermasalah terdiri dari PT PDB dan afiliasinya dengan tunggakan Rp42,29 miliar, yang bergerak di bidang supplier peralatan pertahanan. Selanjutnya, PT EFI yang merupakan kontraktor EPC dalam proyek pupuk BUMN di Aceh memiliki utang Rp46,55 miliar. Ada juga PT ABA dan afiliasinya sebesar Rp15,54 miliar, serta PT IBW dengan jumlah Rp5,25 miliar.
Dua nasabah lainnya yang menunggak yakni PT PPD dengan nilai pinjaman Rp59,03 miliar dan PT CPM bersama afiliasinya sebesar Rp9,58 miliar diduga melakukan fraud. Oleh karena itulah, Akseleran telah melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian untuk proses hukum lebih lanjut.
Performa Pinjaman yang Tertekan
Dalam laporan terkini, Akseleran menyebut tingkat kelancaran bayar dalam 90 hari (TKB90) berada di angka 44,85%. Ini menunjukkan, lebih dari separuh pinjaman yang diberikan sudah melewati batas waktu pembayaran selama tiga bulan dan masuk kategori macet. Sementara itu, tingkat kelancaran bayar 60 hari (TKB60) turun ke level 32,23%, dan hanya 13,63% nasabah yang membayar tepat waktu sesuai jadwal (TKB0).
Struktur Kepemilikan dan Harapan ke Depan
Dalam dokumen prospektus pencatatan saham perdana PT Akselerasi Usaha Indonesia Tbk (kode saham AKSL), disebutkan perusahaan ini merupakan induk usaha dari PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia. Kepemilikan saham dikendalikan oleh 20 pihak, termasuk para pendiri utama seperti Ivan Nikolas Tambunan yang memegang 16,51%, Mikhail Ramses Asitua Tambunan (9,25%), serta Christopher Joutua (9,25%).
Selain itu, terdapat pula empat pemegang saham Seri B, di antaranya Firman dan Susanti masing-masing dengan 1,15%, Yonathan Sutiono (0,4%), dan Anggraini Puspita Dewi (0,2%).
Dengan usaha keras dalam mengatasi kredit macet dan mendukung proses penagihan dan perbaikan, Akseleran berusaha mengembalikan kepercayaan investor serta memberikan harapan realistis bagi lender agar bisa memperoleh kembali investasinya.